Jumat, 06 Januari 2012

Proposal PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA DIKLAT ELEKTRONIKA DASAR


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL 
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA 
PADA MATA DIKLAT
ELEKTRONIKA DASAR 



DI SUSUN OLEH
REZA WAHYUDI
5215083402
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO - FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JANUARI 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga proposal penelitian ini telah selesai meskipun jauh dari sempurna. Peneliti berharap proposal penelitian ini, dapat diterima dan bermanfaat bagi semua pihak, khususnya dalam bidang pendidikan.
Proposal penelitian ini disusun untuk menjelaskan tentang PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA DIKLAT ELEKTRONIKA DASAR karena dengan penelitian ini sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar yang dicapai dalam pemberian tugas pekerjaan rumah.
Dalam penyusunan proposal penelitian ini peneliti banyak menghadapi kesulitan baik dalam penyusunan maupun dalam pengumpulan data. Tetapi semua itu dapat peneliti atasi. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, terutama :
1.      Orang tua yang telah memberikan doa dan dukungan moril maupun materil.
2.      Bapak Dr. Bambang Dharma Putra, M.Pd sebagai dosen pembimbing dalam penelitian.
3.      Semua pihak yang telah membantu, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Proposal penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kelengkapan proposal penelitian ini. Akhir kata semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca umumnya.
                                                                                               










  Jakarta, Desember 2011

       Penulis




BAB I 
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Arti pendidikan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka perlu diselenggarakan pendidikan. Dalam pendidikan terdapat tiga jalur pendidikan yaitu, pendidikan informasi (informal) yang diselenggarakan di lingkungan keluarga, pendidikan formal yang diselenggarakan di lingkungan sekolah, serta pendidikan non formal yang diselenggarakan di lingkungan masyarakat. Ketiga jalur pendidikan tersebut saling melengkapi dalam mewujudkan cita-cita nasional melalui pendidikan. Jalur pendidikan formal terbagi lagi menjadi tiga jenjang, yaitu pendidikan dasar, pendidikan pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sedangkan pendidikan di Indonesia, terdapat pembagian satuan pendidikan yaitu pendidikan umum yang lebih dikenal dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan pendidikan kejuruan yang lebih dikenal dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sebagai lembaga pendidikan sekolah menengah kejuruan merupakan lembaga pendidikan yang mempersiapkan peserta didiknya untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu sesuai dengan keahliannya.
Dari uraian di atas nampak jelas tuntutan akan keberadaan pendidikan kejuruan adalah untuk membentuk dan mengembangkan keahlian dan keterampilan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas, kreativitas, mutu dan efisiensi kerja.
SMK melaksanakan kurikulum seperti yang ditetapkan pemerintah. Dimana telah disusun program pendidikan dan pelatihan yang terbagi menjadi tiga yaitu : Normatif, Adaptif dan Produktif. Untuk kategori Normatif di dalamnya mencakup pelajaran Agama, PPKN, Bahasa Indonesia, dan Sejarah. Kelompok Adaptif adalah Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, Kimia dan Komputer. Sedangkan kelompok produktif khususnya jurusan elektronika (audio-video) yaitu gambar teknik, elektronika dasar, teknik audio, rangkaian listrik, komunikasi data, teknik televisi dan audio, teknik digital dan lain sebagainya. Ketiga kurikulum yang ditetapkan pemerintah tersebut saling melengkapi dan menunjang keterampilan siswa terlebih lagi dalam kelompok kategori Adaptif dan Produktif. Salah satu sekolah yang menggunakan kurikulum tersebut adalah SMK Negeri 1Bekasi  . SMK Negeri 1Bekasi  merupakan salah satu bagian dari pendidikan formal yang memiliki 3 (tiga) program studi. Salah satu diantaranya yaitu Audio Video. Program studi Audio Video mempunyai beberapa kompetensi yang seluruhnya dijadikan judul mata diklat. Salah satu dari mata diklat itu yaitu Teori Dasar Elektronika dengan Standar Kompetensi Menguasai Dasar-dasar Elektronika. Mata diklat ini diberikan pada kelas X semester I. Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk mendorong siswa berdiskusi, saling bantu menyelesaikan tugas, menguasai dan pada akhirnya menerapkan keterampilan yang diberikan untuk meningkatkan hasil belajar adalah dengan mengubah cara belajarnya dan menggunakan model pembelajaran dengan model cooperative learning yang bertujuan merangsang keaktifan

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi setiap saat mengalami kemajuan. Hal ini harus diikuti dengan perkembangan kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Perkembangan kualitas sumber daya manusia tidak dapat lepas dari perkembangan dan kualitas sebuah pendidikan. Pendidikan adalah hal yang sangat mendasar dalam pembentukan kualitas sumberdaya manusia. Oleh karena itu, untuk menciptakan sumberdaya manusia yang kreatif, inovatif, dan produktif diperlukan sistem pendidikan yang berkualitas. Sehingga perlunya perbaikan-perbaikan dalam sistem pendidikan di Indonesia yang sesuai dengan
perkembangan dan perubahan zaman. Salah satu hal yang harus diperbaiki adalah proses  belajar mengajar di kelas. Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan paling utama dalam pendidikan di sekolah. Dalam proses ini akan terciptanya tujuan pendidikan secara umum maupun tujuan khusus seperti perubahan tingkah laku siswa menuju kearah yang lebih baik. Sehingga siswa memiliki kemampuan  dan dapat menghadapi perubahan dan tuntutan zaman, dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan pokok. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pendahuluan dilapangan terhadap guru dan beberapa siswa yang dilakukan peneliti pada saat melaksanakan Program Latihan Profesi di SMK Negeri 1 Seluma di kelas X Teknik Komputer dan Jaringan dengan jumlah siswa 40 orang, diperoleh beberapa temuan bahwa dalam proses pembelajaran pada mata diklat Elaektronika Dasar, yaitu :
1.  Proses pembelajaran masih berpusat pada guru dan metode penyampaian materi didominasi dengan metode konvensional yaitu  ceramah dan mencatat, sehingga siswa hanya menerima pengetahuan dari guru saja.
2. Kurangnya interaksi dan aspek keterbukaan antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa sehingga segala kesulitan siswa dalam proses pembelajaran tidak bisa diketahui oleh guru.
3.  Sumber belajar dominan yang digunakan siswa adalah catatan yang diberikan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
4. Penggunaan model pembelajaran yang kurang mengarah  pada upaya untuk memberikan contoh-contoh penerapan materi yang diajarkan pada dunia nyata.
5.  Penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi.
6. Hasil belajar siswa sebagian besar tidak sampai pada kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu ≥70.
Tabel 1.1 Nilai UTS Mata Diklat
Elaktronika Dasar Pada Kelas X TKJ Di SMK Negeri 1
Tingkat Penguasaan
Kategori
80-100
Lulus amat baik
70-79
Lulus baik
60-69
Lulus cukup
50<59 Belum lulus
Lulus rendah
0-50
Tidak lulus


Dari data di atas dapat dilihat bahwa siswa yang lulus dengan baik hanya 6 orang atau 15%, dan siswa yang lainnya masih belum  lulus. Hasil belajar siswa pada mata diklat Menerapkan Teknik Elektronika Analog dan Digital Dasar dapat disimpulkan bahwa prestasi yang dicapai  masih sangat rendah.  Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan sesuai dengan tuntutan kurikulum diperlukan suatu alternatif model pembelajaran dan penggunaan yang mengarah kepada pembelajaran siswa aktif dengan harapan dapat meningkatkan penguasan konsep dan mengembangkan keterampilan berkomunikasi siswa pada mata diklat Elektronika  Dasar.  Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat Elektronika Dasar supaya mencapai hasil yang sesuai dengan KKM adalah dengan mengembangkan model pembelajaran kontekstual. Kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Karena pada mata diklat Elektronika  Dasar menuntut siswa untuk berperan aktif. Sedangkan pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi. Terdapat tujuh  asas dalam pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu  konstruktivisme, inquiri, questioning (bertanya), learning community (masyarakat belajar),  modeling (pemodelan),  reflection (refleksi),  authentic assessment (penilaian yang sebenarnya).
 Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik  untuk menerapkan model pembelajaran kontekstual ini dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep siswa, sehingga penulis mengambil kajian: “Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Diklat Elaktronika Dasar”. Untuk menghindari meluasnya permasalahan yang akan  dibahas serta lebih terarahnya penelitian ini, maka perlu adanya pembatasan masalah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini, yaitu :
1.  Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian  ini adalah Model Pembelajaran Kontekstual.
2.  Mata diklat yang Elaktronika Dasar materi yang diajarkan adalah 
3.  Hasil belajar pada aspek kognitif yang akan diungkap meliputi prestasi
belajar siswa. 
4.  Kegiatan yang diteliti adalah aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam
proses kegiatan pembelajaran.     
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latarbelakang yang telah dikemukakan sebelumnya, penulis merumuskan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :
“Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual dapat mempengaruhi perubahan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa pada Mata Diklat Elektronika Dasar?” 
Secara khusus permasalahan tersebut akan dikaji dalam penelitian ini dengan rincian sebagai berikut :
1.  Bagaimana kegiatan pembelajaran dengan model Kontekstual dapat  meningkatkan hasil belajar siswa dari aspek kognitif pada mata diklat  Elektronika Dasar?
2.  Bagaimana peningkatan aktivitas siswa setelah mengikuti pembelajaran
dengan model Kontekstual pada mata diklat Menerapkan Teknik  Elektronika Dasar
3.  Bagaimana peningkatan aktivitas guru dalam proses kegiatan belajar
mengajar terhadap mata Elektronika Dasar  pada saat diterapkan proses pembelajaran dengan menggunakan model Kontekstual ?

C.  Tujuan Penelitian
Suatu penelitian harus memiliki tujuan yang jelas agar mencapai hasil yang optimal. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa ditinjau dari aspek kognitif pada mata diklat Elektronika Dasar  sehingga diharapkan siswa dapat lulus sesuai dengan nilai KKM dengan menggunakan model pembelajaran Kontekstual pada siswa kelas X Teknik Elektronika SMKN 1 Bekasi  tahun ajaran 2010-2011. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :  
1.  Mengetahui tingkat perubahan hasil belajar siswa yang dicapai yang ditinjau dari aspek kognitif setelah diterapkan kegiatan pembelajaran dengan model Kontekstual pada mata Elektronika Dasar 
2.  Mengidentifikasi seberapa besar peningkatan aktivitas siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan model Kontekstual pada mata diklat Elektronika Dasar 
3.  Mengidentifikasi seberapa besar peningkatan aktivitas guru terhadap mata diklat Menerapkan Teknik Elektronika setelah melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan model Kontekstual.  
D.  Manfaat Penelitian
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikaninformasi untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam upaya menyusun model pembelajaran pada mata diklat Bahan-Bahan Listrik dengan model pembelajaran kontekstual yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga pembelajaran lebih interaktif. Bagi siswa diharapkan dapat menimbulkan interaksi yang baik diantara siswa sehingga mampu meningkatkan hasil belajar dan siswa mampu menerapkan konsep yang telah didapatkannya dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sekolah penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran disekolah.
 E.  Penjelasan Istilah
Untuk menghindari adanya perbedaan penafsiran terhadap istilah-istilah yang akan digunakan dalam penelitian ini, maka penulis memberikan penjelasan dan pengertian mengenai beberapa definisi yang digunakan antaralain sebagai berikut :
1.  Model Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan suasana dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Model Pembelajaran Kontekstual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dihubungkan dengan menerapkan dengan kehidupan siswa.
2.  Hasil belajar 
Hasil belajar merupakan suatu nilai yang diberikan kepada peserta
didik pada akhir suatu program pengajaran setelah siswa didik melewati
serangkaian tes, yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang telah
diajarkan. 
 3.   Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan,  melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
 F. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah penulis dalam penyusunan penelitian ini, maka penulis membagi pembahasan menjadi lima bab. Sistematika dalam penyusunan penelitian ini adalah sebagia berikut : 
 BAB I Pendahuluan, pada bab ini mengemukakan mengenai:
latarbelakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,  metode penelitian, manfaat
penelitian, penjelasan istilah dan sistematika penulisan.
BAB II  Landasan Teori, pada bab ini menguraikan mengenai: konsep belajar dan pembelajaran, penelitian tindakan kelas, pembelajaran kontekstual.
BAB III Metode Penelitian, pada bab ini menguraikan mengenai: metode penelitian, prosedur penelitian, paradigma penelitian, lokasi dan objek penelitian, instrumen penelitian dan cara penggunaannya, teknik pengumpulan data, teknik análisis data dan kriteria keberhasilan penelitian.
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, pada bab ini menguraikan
mengenai: deskripsi awal pratindakan, refleksi kegiatan awal pembelajaran, penerapan model pembelajaran kontekstual di kelas dan pembahasan hasil penelitian.
 BAB V Kesimpulan dan Saran, pada bab ini dikemukakan mengenai kesimpulan yang diambil dan saran yang diberikan.











BAB II
LANDASAN TEORI

A.  Konsep Belajar  dan Hasil Belajar
1.  Pengertian Belajar 
Salah satu hal utama yang dilakukan untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah dengan belajar, dan dengan belajar akan terjadi proses interaksi individu  dengan lingkungannya. Secara formal interaksi tersebut dapat berupa siswa belajar di sekolah, siswa akan berinteraksi dengan guru, dengan teman-temannya, dengan buku-buku perpustakaan dan peralatan laboratorium, di rumah mereka berinteraksi dengan catatan-catatan siswa dan melaksanakan tugas dari guru. Belajar akan berdampak pada perilaku, pandangan, dan pola pikir seseorang terhadap suatu hal.     Menurut Wina Sanajaya (2009:110) menyatakan bahwa ”belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku, aktivitas mental itu  terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang didasari”.
      Menurut Oemar Hamalik (2005:28)  menyatakan bahwa “Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya.” Perubahan tingkah laku yang  dimaksud meliputi aspek-aspek pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, etika dan sikap. Perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar disebut hasil belajar bersifat relatif menetap dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.  Dari beberapa definisi mengenai belajar di atas, penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses aktif perubahan tingkah laku dan kecakapan manusia yang melalui berbagai pengalaman untuk memperoleh pengetahuan sebagai proses kematangan. Sehingga dalam pendidikan, belajar merupakan kegiatan pokok yang menentukan berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan Proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan  reaksi atau hasil kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Siswa akan berhasil belajar jika guru mengajar secara efisien dan efektif. Itu  sebabnya guru harus mengenal prinsip-prinsip belajar agar para siswa dapat belajar aktif dan berhasil. Prinsip-prinsip belajar dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.  Pengalaman Dasar
 Pengalaman dasar berfungsi untuk mempermudah siswa dalammemperoleh pengalaman baru. Siswa merasa sulit memahami suatu generalisasi jika ia belum mempunyai suatu konsep sebagai pengalaman dasar.
2.  Motivasi Belajar
 Siswa akan melakukan perbuatan belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. Jika memilih motivasi belajar, dorongan motivasi ini berguna tidak hanya untuk mendorong mereka belajar secara aktif, tetapi juga berfungsi sebagai pemberi arah dan penggerak dalam belajar. Motivasi belajar dapat tumbuh dari dalam diri sendiri, yang disebut dengan motivasi intrinsik, motivasi belajar juga dapat timbut berkat dorongan dari luar seperti pemberian angka, kerja kelompok, hadiah atau teguran yang disebut dengan mitivasi ekstrinsik. Kedua motivasi  ini berguna bagi siswa untuk belajar secara aktif.
3.  Penguatan Belajar
Hasil belajar yang telah diperoleh siswa perlu ditingkatkan agar penguasan yang tuntas. Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengulang dan melatih hal-hal yang telah dipelajari. Berdasarkan uraia di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa penyusunan dan pelaksanaan program belajar-mengajar hendaknya memperhatikan beberapa prinsip belajar secara aktif. 
  4.  Hasil Belajar
Nana Sudjana (dalam Kunandar, 2010:276) menyatakan  bahwa “suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan”. Untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah mengetahui suatu materi atau belum. Penilaian merupakan upaya sistematis yang dikembangkan oleh suatu institusi pendidikan yang ditunjukan untuk menjamin tercapainya kualitas proses pendidikan serta kualitas kemampuan pererta didik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu keberhasilan proses belajar mengajar dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut :
1.      Faktor Internal 
Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar yaitu siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain motovasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.
2. Faktor Eksternal
Pencapaian tujuan belajar harus diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif, hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan dan pembentukan sikap. Penulis berpendapat bahwa hasil belajar mempunyai peranan penting  dalam proses pembelajaran, proses penilaian terhadap hasil belajar dapat  memberikan informasi kepada guru mengenai kemajuan siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan-tujuan belajar siswa melalui kegiatan pembelajaran.   
3.  Aktivitas Siswa
Belajar yang baik harus melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Kita tidak dapat memastikan bahwa siswa yang diam mendengarkan penjelasan dari guru tidak berarti tidak aktif, demikian sebaliknya belum tentu siswa yang secara fisik aktif, memeliki kadar aktivitas mental yang tinggi pula. Kunandar (2010:277) mengungkapkan bahwa,”Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dalam kegiatan belajar guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut”. Peningkatan aktivitas siswa, diantaranya meningkatkan jumlah siswa yang terlibat aktif belajar, meningkatkan jumlah siswa yang bertanya dan menjawab, meningkatkan jumlah siswa yang paling berinteraksi membahas materi pelajaran. Metode belajar yang bersifat partisipatoris yang dilakukan guru akan mampu membawa siswa dalam situasi yang lebih kondusif, karena siswa lebih berperan  dan lebih terbuka serta sensitif dalam kegiatan belajar mengajar. Indikator aktivitas siswa yang diungkapkan oleh kunandar (2010:277), dapat dilihat dari :
1.  Mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran.
2.  Aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa.
3. Mayoritas siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru melalui pembelajaran kooperatif.
Berdasarkan pengertian di atas, penulis berpendapat bahwa dalam belajar  sangat dituntut keaktifan siswa. Siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan, sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan. Tujuan pembelajaran Menerapkan Teknik Elektronika Analog dan Digital Dasar tidak mungkin tercapai tanpa adanya aktivitas siswa. Membentuk manusia yang kreatif dan bertanggung jawab, dalam rangka  ini penulis berusaha melatih dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual, sebab dengan model pembelajaran ini siswa dituntut untuk lebih aktif dan bertanggung jawab. 
B. Penelitian Tindakan Kelas
1.  Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan dan  merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat (Wina Sanjaya, 2010:9).  Suharsimi Arikunto (2010:3) “penelitian tindakan kelas merupakan suatu  pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama”.  Wiriatmaja (dalam Tukiran Taniredja, 2010:16) mengemukakan bahwa ”penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri”.    Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian untuk mengangkat masalah-masalah yang berada di dalam kelas yang dilakukan oleh para guru yang merupakan pecermatan kegiatan belajar berupa tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran di kelas secara lebih profesional. 
 2.  Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Semua penelitian bertujuan untuk memecahkan suatu masalah tetapi untuk penelitian tindakan kelas disamping tujuan tersebut tujuan yang utama dari penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses belajar mengajar.   Menurut Mulyasa (dalam Tukiran Taniredja, 2010:20) secara umum tujuan penelitian tindakan kelas adalah :
1.  Memperbaiki dan meningkatkan kondisi belajar serta  kualitas pembelajaran.
2.  Meningkatkan layanan profesional dalam konteks pembelajaran, khususnya kepada peserta didik sehingga tercipta layanan prima.
3.  Memberikan kesempatan kepada guru berimprovisasi dalam melakukan tindakan pembelajaran yang direncanakan secara tepat waktu dan sasarannya.
4.  Memberikan kesempatan kepada guru untuk mengadakan  pengkajian secara bertahap terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukannya sehingga tercipta perbaikan yang berkesinambungan.
5.  Membiasakan guru mengembangkan sikap ilmiah, terbuka, dan jujur dalam pembelajaran.   
 Tujuan penelitian tindakan kelas di atas dapat penulis simpulkan bahwa penelitian tindakan kelas bertujuan untuk meningkatkan atau memperbaiki praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru, disamping itu dengan penelitian tindakan kelas tertumbuhkannya budaya meneliti dikalangan guru.
3. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas dapat memberikan manfaat  sebagai inovasi pendidikan yang tumbuh dari peneliti yaitu guru, karena guru adalah ujung tombak pelaksana lapangan. Dengan penelitian tindakan kelas guru menjadi lebih mandiri yang ditopang oleh rasa percaya diri, sehingga secara keilmuan menjadi lebih berani mengambil prakarsa yang patut diduganya dapat memberikan manfaat perbaikan.  Manfaat lainnya dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut :
a.  Menumbuhkan kebiasaan menulis
b.  Menumbuhkan budaya meneliti
c.  Menggali ide baru
d.  Melatih pemikiran ilmiah
e.  Mengembangkan keterapilan
f.  Meningkatkan kualitas pembelajaran
 4. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas dimulai dengan adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilaku belajar siswa. Langkah menemukan masalah dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan penelitian tindakan kelas dalam bentuk tindakan perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam bentuk  siklus berulang yang di dalamnya terdapat empat tahapan kegiatan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Siklus penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut :  
Perencanaan
 
 

Pelaksanaan
 
Refleksi
 
Siklus 1
 
 
Pengamatan
 
Perencanaan
 
Siklus 2
 
Pelaksanaan
 
Refleksi
 
Pengamatan
 
Perencanaan
 
Pelaksanaan
 
Refleksi
 
Siklus 3
 
Pengamatan
 
Hasil Penelitian
 
 














Gambar 2.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Sumber : Suharsimi Arikunto (2010:16)
 Tahapan-tahapan pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat diuraikan
sebagi berikut :
1. Perencanaan (planning)
Tahapan ini berupa menyusun rancangan tindakan yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Pada tahapan perencanaan peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrument pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Secara rinci pada tahapan perencanaan terdiri dari kegiatan sebagai berikut:
a.       Mengidentifikasi dan menganalisis masalah, yaitu secara jelas dapat dimengerti masalah apa yang akan diteliti. Masalah tersebut harus benar-benar faktual terjadi di lapangan masalah bersifat  umum di kelasnya, masalahnya cukup penting dan bermanfaat bagi peningkatan mutu hasil pembelajaran, dan masalahpun harus dalam jangkauan  kemampuan peneliti.
b.      Menetapkan alasan mengapa penelitian tersebut dilakukan, yang akan melatarbelakangi penetilian tindakan kelas.
c.       Merumuskan masalah secara jelas, baik dengan kalimat tanya maupun kalimat pertanyaan.
d.      Memetapakan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan hipotesis tindakan. Umumnya dimulai  dengan menetapkan berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah, kemudian dipilih tindakan yang paling menjanjikan hasil terbaik dan yang dapat dilakukan oleh guru.
e.       Menemtukan cara untuk menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan indikator-indikator keberhasilan serta berbagai instrument pengumpul data yang dapat dipakai untuk menganalisis indikator keberhasilan itu.
f.       Membuat secara rinci rancangan tindakan. 20
 2. Tindakan
Pada tahap ini, rancangan strategi dan scenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Rancangan tindakan tersebut tentu  saja sebelumnya telah dilatihkan  kepada pelaksana tindakan (guru) untuk  dapat diterapkan di dalam kelas sesuai dengan skenarionya. Scenario dari tindakan harus dilaksanakan dengan baik dan tampak wajar. Rancangan tindakan yang akan dilakukan hendaknya dijabarkan serinci mungkin secara tertulis. Rincian tindakan tersebut menjelaskan sebagai berikut :
a.  Langkah demi langkah yang akan dilakukan
b.  Kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh guru
c.  Kegiatan yang diharapkan dilakukan oleh siswa
d.  Rincian mengenai jenis media pembelajaran yang akan digunakan untuk  pengumpulan data atau pengamatan disertai dengan penjelasan rincian bagaimana menggunakannya.
3. Pengamatan atau Observasi
Tahap ini sebenarnya berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pada tahap ini, peneliti (atau guru apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan poengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dengan melakukan format observasi atau penilaian yang telah disusun, termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan scenario tindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa.
 4. Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi untuk menyempurnakan tindakan berikutnya. Refleksi dalam penelitian tindakan kelas mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi.
 5. Jenis-Jenis Penelitian Tindakan Kelas
Jenis penelitian tindakan kelas dibedakan menjadi 4, yakni (1) PTK diagnostik, (2) PTK partisipan, (3) PTK empiris, dan  (4) PTK ekspremintal. Untuk lebih jelas, berikut ditemukan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut :
1)  PTK Diagnostik
Yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntut penelitipeneliti kearah suatu tindakan. Dalam hal ini peniliti mendiagnosa dan memasuki situasi yang terdapat didalam luar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
2)  PTK Partisipan
Suatu penelitian dikatakan sebagai PTK Partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelitian harus terlihat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak perencanaan penelitian peneliti senantiasa terlihat, selanjutnya peneliti mementau, mencatat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil penelitiannya. PTK partisipasi dapat juga dilakukan disekolah, hanya saja disini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus- menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
3)  PTK Empiris
Yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melakukan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsip nya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan cacatan dan pengumpulan pengalaman peneliti dalam pekerjaan sehari-hari.
4)  PTK Eksperimental
Yang dikategorikan PTK Eksperimental ialah PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien didalam suatu kegiatan belajar-mengajar oleh peniliti. Di dalam kaitannya dengan kegiatan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebihdari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruktusional. 
7. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Karakteristik penelitian tindakan kelas yang sekaligus dapat membedakannya dengan penelitian formal adalah sebagai berikut:
1. Penelitian tindakan kelas merupakan prosedur penelitian di kelas yang   dirancang untuk menanggulangi masalah nyata yang dialami Guru berkaitan dengan siswa di kelas itu. Ini berarti, bahwa rancangan penelitian diterapkan sepenuhnya di kelas itu, termasuk pengumpulan data, analisis, penafsiran, pemaknaan, perolehan temuan,  dan penerapan temuan. Semuanya dilakukan di kelas dan dirasakan oleh kelas itu.
2. Metode penelitian tindakan kelas diterapkan secara kontekstual, dalam     arti bahwa variabel-variabel yang ditelaah selalu berkaitan dengan keadaan kelas itu sendiri. Dengan demikian, temuan hanya berlaku untuk kelas itu sendiri dan tidak dapat digeneralisasi untuk kelas  yang lain. Temuan penelitian tindakan kelas hendaknya selalu diterapkan segera dan ditelaah kembali efektifitasnya dalam kaitannya dengan keadaan dan suasana kelas itu.
3. Penelitian tindakan kelas terarah pada suatu perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran, dalam arti bahwa hasil atau  temuan penelitian penelitian tindakan kelas itu adalah pada diri guru telah terjadi perubahan, perbaikan, atau peningkatan sikap dan perbuatannya. Penelitian tindakan kelas akan lebih mudah berhasil jika adanya kerjasama antara guru-guru di sekolah, sehingga mereka dapat sharing mengenai permasalahan yang ada, dan apabila penelitian telah dilakukan, selalu diadakan pembahasan perencanaan tindakan yang dilakukan. Dengan demikain, penelitian tindakan kelas itu bersifat kolaborasi dan kooperatif.
4. Penelitian tindakan kelas bersifat luwes dan mudah diadaptasi. Dengan demikian, maka cocok digunakan dalam rangka pembaharuan dalam kegiatan kelas. Hal ini juga memungkinkan diterapkannya suatu hasil studi dan penelaahan kembali secara berkesinambungan.
5. Penelitian tindakan kelas banyak mengandalkan data yang diperoleh   langsung dari refleksi diri peneliti. 
6. Penelitian tindakan kelas sedikitnya ada kesamaan dengan penelitian eksperimen dalam hal percobaan tindakan yang segera dilakukan dan ditelaah kembali efektifitasnya. Oleh karena itu kaidah-kaidah dasar penelitian ilmiah dapat dipertahankan terutama dalam pengambilan data, perolehan informasi, upaya untuk membangun pola tindakan, rekomendasi dan lain-lain, maka penelitian tindakan kelas tetap merupakan proses ilmiah.
7.  Penelitian tindakan kelas bersifat situasional dan spesisifik, yang pada umumnya dilakukan dalam bentuk studi kasus. Subyek penelitian sifatnya terbatas, tidak representatif untuk merumuskan atau generalisasi. Penggunaan metoda statistik terbatas pada pendekatan deskriptif tanpa inferensi.
 C. Model Pembelajaran Kontekstual
1. Konsep Dasar Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk  kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru kesiswa. Strategi pembelajaran lebih penting dari pada hasil, dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dibandingkan dengan memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).  Sesuai dengan asumsi yang mendasarinya, bahwa pengetahuan itu diperoleh anak bukan dari informasi yang diberikan  oleh orang lain termasuk guru, akan tetapi dari proses menemukan dan mengkontruksinya sendiri, maka guru harus menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi. Guru harus memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah organisme yang aktif yang memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri. Kalaupun guru memberikan informasi kepada siswa guru harus memberi kesempatan untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna untuk kehidupan mereka.  Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar, perbedaan gaya tersebut dimanakan sebagai unsur modalitas belajar.  Tipe gaya belajar siswa dibagi kedalam tiga bagian yaitu sebagai berikut :
1.  Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, artinya siswa akan lebih cepat belajar dengan cara menggunakan indra penglihatannya.
2. Tipe auditorial adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya.
3.  Tipe kinestetis adalah tipe belajar dengan cara bergerak, berkerja dan menyentuh. Sehingga dapat disimpulkan dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. 
 2. Pengertian Kontekstual
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti “hubungan, konteks, suasana dan keadaan”. (KUBI, 2002:519). Sehingga konntekstual dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat  menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Konteksual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorentasikan pada proses pengalaman secara langsung. Menurut Depdiknas (2003:5) “kontekstual adalah konsep belajar  yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari”. Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2010:253) “kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari  dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat  menerapkannya dalam kehidupan mereka”.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami dalam model pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut :
1.  Pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses pembelajaran diorentasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam pembelajaran kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
2.  Pembelajaran kontekstual mendorong siswa agar menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara  pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan  kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinyaakan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
3.  Pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.     
Dengan demikian peneliti dapat menyimpulkan bahwa Melalui pembelajaran kontekstual diharapkan konsep-konsep materi pelajaran dapat diintegrasikan dalam konteks kehidupan nyata dengan harapan siswa dapat memahami apa yang dipelajarinya dengan lebih baik dan mudah. Dalam pembelajaran kontekstual, guru mengkaitkan konteks  dalam kerangka pembelajarannya guna meningkatkan makna belajar bagi siswa. Selain itu siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman disekolah dengan kehidupan nyata, bukan saja berarti materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.

3. Karakteristik Proses Pembelajaran Kontekstual
Menurut Wina Sandjaya (2010:254), terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual, yaitu :
1. Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada  (activiting knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh dan memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam  rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru  (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan.

4. Ciri-ciri Teori Pembelajaran Kontekstual 
Adapun ciri-ciri teori pembelajaran secara kontekstual   adalah sebagai berikut : 
1. Siswa dapat memproses materi pelajaran atau pengetahuan baru dengan cara  yang bermakna dalam rangka meningkatkan hasil belajar.
2. Materi pelajaran disampaikan dalam konteks yang berbagai dan bermakna kepada siswa.
3. Guru mewujudkan berbagaian pembelajaran untuk menghasilkan  pembelajaran yang berkesan.
Pengalaman harian individu
 
 
 



Gambar 2.2 Pengenalan Pembelajaran secara Kontekstual

5. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas
Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun  keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut :
1.  Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.  Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3.  Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
 4.  Ciptakan masyarakat belajar.
5.  Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6.  Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7.  Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
 6. Asas-Asas Kontekstual
Pembelajaran kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki tujuh asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Ketujuh asas kontekstual dapat dijelaskan dibawah ini :
1.  Konstruktivisme 
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldawin dikembangkan dan diperdalam oleh Jean Pigget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk mengintrepretasi objek tersebut. Kedua faktor tersebut itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengkonstrusinya.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran melalui pendekatan kontekstual pada dasarnya mendorong agar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman sebab pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Atas dasar asumsi yang mendasari itulah,  maka penerapan asas konstruktivisme dalam pembelajaran melalui CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.
2.  Inkuiri (Menemukan)
Inkuiri merupakan asas kedua dari pembelajaran kontekstual yang artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis (Wina Sandjaya, 2010:263). Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah menyiapkan sejumlah materi yang dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosional, maupun pribadinya. Secara umum proses inkuiri  dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: 1. merumuskan masalah, 2. mengajukan hipotesis,  3. mengumpulkan data, 4. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan, 5. Membuat kesimpulan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Penerapan asas dalam proses pembelajaran kontekstual, dimulai dari adanya  kesadaran siswa akan masalah yang  jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian, siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Jika masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang  jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi untuk pengumpulan data. Manakala data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan. Asas menemukan seperti yang digambarkan diatas, merupakan asas yang penting dalam pembelajaran kontekstual. Melalui proses berpikir yang sistematis seperti diatas, diharapkan siswa memilki sikap ilmiah, rasional, dan logis, yang kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas.
3.  Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran kontekstual, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing siswa untuk menemukan sendiri. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya. Menurut Wina Sandjaya (2010:264) dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk :
a. Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran. 
b.  Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.
c.  Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.
d.  Memfokuskan siswa terhadap sesuatu yang diinginkan.
e.  Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
Sehingga dapat disimpulakan bahwa dalam setiap tahapan dan proses pembelajaran bertanya hampir selalu digunakan. Olek karena itu, kemampuan guru untuk mengembangkan teknik-teknik bertanya sangat penting.
 4.  Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar  (learning community) dalam pembelajaran kontekstual menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerjasama ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antara teman ataupun kelompok yang sudah memberi tahu kepada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. 
            Dalam kelas pembelajaran kontekstual, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang  anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan; yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong  untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada orang lain.
5.  Pemodelan (Modeling)
Menurut Sandjaya (2010:265) yang dimaksud dengan asas pemodelan adalah “proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa”. Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain sebagainya.  Proses pemodelan  tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga
guru memanfaatkan siswa yang dianggap memilki kemampuan. Misalkan siswa yang pernah menjadi juara dalam lomba puisi dapat menampilkan keahliannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Pemodelan, merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual, sebab melalui pemodelan siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme. 
6.  Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang  telah dipelajari dan dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan  yang dimilkinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan yang telah dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya  Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk  “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalamannya belajar. 
7.  Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan oleh guru pada saat ini, biasanya ditekankan kepada perkembangan aspek intelektual, sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah telah menguasi materi pelajaran. Dalam pembelajaran kontekstual, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual  saja, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian.
Menurut Wina Sanjaya (2010:266) Penilaian nyata  (authentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memilki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa Berdasarkan pendapat yang dikemukakan diatas, maka  penulis menerapkan pada penelitian ini untuk mengetahui indikator-indikator penguasaan untuk kompetensi mengenal dan mengidentifikasi komponen elektronika sebagai berikut:
1.  Kontruktivisme
Pada tahap ini siswa dituntut untuk dapat membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Sebagai contoh aplikasi dalam penelitian ini adalah :
•  Guru memberikan penjelasan mengenai kapasitor dalam kehidupan nyata beserta aplikasinya. Contohnya penggunaan kapasitor untuk menyimpan muatan dan energi, lampu kilat pada kamera memiliki kapasitor yang besar untuk menyimpan energi tabung lampu, kapasitor mendapat muatan dari baterai selama kurang lebih 30 detik. Ketika diperlukan dalam sekejap semua muatan akan keluar dari tabung lampu sehingga lampu kilat menyala.
2.  Inquiri 
Pada tahap ini siswa dituntut untuk belajar dengan  menggunakan keterampilan berfikir kritis dalam proses pembelajaran khususnya pada kompetensi mengenal dan mengidentifikasi komponen elektronika. Aplikasinya adalah sebagai berikut ini :
•  Guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai materi yang akan disampaikan sekarang untuk mengetahui sejauh mana siswa mengetahuinya sebelum materi tersebut disampaikan.
•   Siswa memberikan contoh penggunaan kapasitor dalam  kehidupan sehari-hari yang pernah dilihatnya. 
3.  Questioning (bertanya)
Pada tahap ini siswa dituntut untuk menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran; membangkitkan motivasi siwa untuk belajar; merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu; memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan; menyimpulkan sesuatu. Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut:
•      Guru memancing siswa agar dapat menemukan sendiri mengenai kapasitor mika
•     Siswa bertanya mengenai fungsi dari kapasitor mika dan aplikasinya.
•  Berdasarkan pertanyaan yang diajukan siswa, guru membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan materi tentang kapasitor mika.
4.  Learning community (masyarakat belajar)
Konsep masyarakat belajar dalam kontekstual diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain, kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai berbentuk  kelompok belajar.  Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut:
•  Guru membagi siswa menjadi 10 Kelompok.
•  Siswa melaksanakan diskusi kelompok untuk membahas materi kapasitor.
•  Guru membahas pendapat, informasi, dan masalah dari pengalaman siswa
mengenai kapasitor.
5.  Modeling (pemodelan)
Dalam pemodelan siswa dituntut untuk dapat mengingat dan mengaplikasikan  peragaan yang telah dicontohkan guru. Contoh aplikasinya adalah sebagi berikut:
•  Guru memberikan contoh fungsi dari kapasitor mika, yaitu untuk rangkaian resonasi, filter untuk frekuensi tinggi dan rangkaian yang menggunakan tegangan tinggi. Misalnya: radio pemancar yang menggunakan tabung transistor.
6.  Reflection (pemodelan)
Dalam refleksi siswa dituntut untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya, dan siswa diberikan kebebasan untuk  menafsirkan pengalamannya sendiri sehingga siswa dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya. Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut:
• Setelah mendengarkan penjelasan dari guru, siswa mengetahui bahwa  aplikasi dari kapasitor dapat mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, mereka menjadi tahu bahwa lampu kilat pada kamera dan radio pemancar merupakan aplikasi dari penggunaan kapasitor. 
7.  Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya)
Proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi megenai perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa berupa pemberian evaluasi. Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut:
•  Pelaksanaan evaluasi setelah kegiatan pembelajaran  berakhir untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan.
7.  Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi
tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan
topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran,
media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran dan langkah-langkah
pembelajaran saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut :
1.  Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan
kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi,
Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar.
2.  Nyatakan tujuan umum pembelajarannya.
3.  Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
4.  Pembutanan skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
D. Evaluasi Belajar
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana
tujuan yang telah tercapai (Suharsimi Arikunto, 2009:19).
1.  Subjek Evaluasi
Subjek evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi. Siapa yang dapat disebut sebagai subjek evaluasi untuk setiap tes, ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku  (Suharsimi Arikunto, 2009:19). Contoh: Untuk melaksanakan evaluasi tentang prestasi belajar atau pencapaian, maka subjek evaluasi adalah guru.
 2.  Sasaran Evaluasi
Sasaran penilaian adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan, karena penilai menginginkan informasi tentang sesuatu (Suharsimi Arikunto, (2009:20). Sasaran penilaian unsur-unsurnya meliputi: input, tranformasi, dan output.
 3. Prinsip Evaluasi
Terdapat satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu triagulasi yang erat kaitannya antara tiga komponen adalah sebagai berikut: 
1.  tujuan pembelajaran
2.  kegiatan pembelajaran atau KBM, dan
3.  evaluasi
Triagulasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:

tujuan
evaluasi  KBM
Gambar 2.3 Bagan Trigulasi 42


Penjelasan dari bagan triagulasi diatas dalah sebagai berikut:
a. Hubungan antara tujuan dengan KBM
Kegiatan belajar mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak di capai. Dengan demikian, anak panah menunjukan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.
b. Hubungan antara tujuan dengan evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan telah tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi menuju ke tujuan. Disisi lain, bila dilihat dari langkah dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan.
c. Hubungan antara KBM dan evaluasi
Dalam hal ini evaluasi harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM. Contoh: jika kegiatan belajar mengajar dilakukan guru menitik beratkan pada keterampilan, evaluasinya juga harus mengukur keterampilan siswa bukan aspek pengetahuan. 
4. Jenis Evaluasi
Menurut fungsinya, evaluasi dibedakan ke dalam empat jenis, yaitu formatif, sumatif, diagnostik, dan evaluasi penempatan. Evaluasi formatif menekankan kepada upaya memperbaiki proses pembelajaran. Evaluasi sumatif lebih menekankan kepada penetapan tingkat keberhasilan belajar setiap siswa yang dijadikan dasar dalam penentuan nilai atau kenaikan nilai siswa. Evaluasi diagnostik menekankan kepada upaya memahami kesulitan siswa dalam belajar, sedangkan evaluasi penempatan menekankan kepada upaya untuk menyelaraskan antara program dan proses pembelajaran dengan karakteristik kemampuan siswa. Menurut caranya dibedakan atas dua jenis yaitu evaluasi kuantitatif dan evaluasi kualitatif. Evaluasi kualitatif biasanya lebih bersifat subjektif dibandingkan dengan evaluasi kuantitatif. Evaluasi kuantitatif biasanya dilakukan apabila guru ingin memberikan nilai akhir terhadap hasil belajar siswa, sedangkan evaluasi kualitatif dilakukan apabila guru ingin memperbaiki hasil belajar siswanya. Menurut bentuknya dibedakan menjadi tes uraian dan  tes objektif. Menurut caranya dibedakan menjadi tes tulisan, tes lisan, dan tes tindakan. Teknik non-test biasanya digunakan untuk menilai proses pembelajaran, alat-alat khusus untuk melaksanakan teknik non-test ini dapat dilakukan melalui pengamatan, wawancara, angket, dan hasil karya ilmiah atau laporan. 
5. Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektivitas poses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Indikator keefektifan itu dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa. Perubahan tingkah laku yang terjadi dibandingkan dengan perubahan tingkah laku  yang diharapkan sesuai dengan tujuan dan isi program pembelajaran. Oleh karena itu, instrument evaluasi harus dikembangkan dari tujuan dan isi program, sehingga bentuk dan format tes sesuai dengan tujuan dan karakteristik bahan ajar,  serta porsinya sesuai dengan keluasan dan kedalaman materi yang diberikan. 
6. Fungsi Evaluasi
Adapun fungsi dari evaluasi pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam empat fungsi, yaitu:
1.  Fungsi formatif, evaluasi dapat memberiikan umpan balik bagi guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program remedial bagi siswa yang belum menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari.
2.  Fungsi sumatif, yaitu dapat mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang dipelajari, menentukan angka nilai sebagai bahan keputusan kelulusan, dan laporan perkembangan belajar siswa,  serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
3.  Fungsi diagnostik, yaitu dapat mengetahui latar belakang siswa (psikologis, fisik, dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar.
4.  Fungsi seleksi dan penempatan, yaitu hasil evaluasi dapat dijadikan dasar untuk menyeleksi dan menempatkan siswa sesuai dengan minat dan kemampuannya.
 7. Model Evaluasi Pembelajaran Kontekstual
Dalam penilaian pembelajaran kontekstual, siswa mendapat nilai secara individu dan nilai secara berkelompok. Siswa bekerja sama dengan teman-temanya yang dibentuk dalam kelompok. Sehingga siswa dapat saling membantu satu sama lain dalam mempersiapkan diri untuk melaksanakan tes. Kemudian siswa mengerjakan tes secara sendiri-sendiri dan nilai dinilai secara individu. 
E.  Materi Mata Diklat Elektronika Dasar
Mata Diklat Elektronika Dasar merupakan salah satu mata diklat produktif yang wajib diikuti oleh siswa kelas X program keahlian Teknik Elektronika Di SMKN 1 Bekasi. Materi yang akan disampaikan dalam penelitian ini adalah Kapasitor,
dan uraian materi tersebut sebagai berikut :
 1.  Pengertian Kapasitor
Kapasitor / kondensator adalah komponen pasif, notasinya dituliskan dengan huruf C berfungsi untuk menyimpan energy listrik dalammuatan listrik, banyaknya muatan lisrik per detik dalam satuan Coulombs (C). Kemampuan kapasitor dalam menyimpan muatan disebut kapasitansi yang satuannya adalah Farad (F), pada umumnya kapasitor yang ada di pasaran memiliki satuan sebagai berikut :
•  1 Farad = 1.000.000 µF (mikro Farad)  
 •  1 µF      = 1.000 nF (nano Farad) 
•  1 nF      = 1.000 pF (piko Farad) 
Tegangan kerja pada kapasitor AC untuk non polar : 25 Volt ; 50 Volt ; 100 Volt ; 250 Volt ; 500 Volt,...
Tegangan kerja pada kapasitor DC untuk polar : 10 Volt ; 35 Volt ; 50 Volt ; 100 Volt ; 250 Volt.
Fungsi kapasitor dalam dalan suatu rangkaian adalah sebagai berikut :
•  Sebagai filter atau penyaring
•  Sebagai kopling.penghubung antara rangkaian
•  Sebagai fine tuning
•  Penyimpangan arus

2.  Identifikasi dan Membaca Nilai
a.  Jenis Kapasitor Berdasarkan Polaritasnya
•  Kapasiator Non Polar
  Kapasitor non polar adalah kapasitor yang elektrodanya tanpa
memiliki kutup positif (+) maupun kutub negative (
pemasangannya terbalik maka kapasitor tetap bekerja.
disimbolkan sebagai berikut :
1 µF      = 1.000 nF (nano Farad)   
1 nF      = 1.000 pF (piko Farad)  
Tegangan kerja pada kapasitor AC untuk non polar : 25 Volt ; 50 Volt ; 100
Volt ; 250 Volt ; 500 Volt,...
Tegangan kerja pada kapasitor DC untuk polar : 10 Volt ; 16 Volt ; 25 Volt ;
35 Volt ; 50 Volt ; 100 Volt ; 250 Volt.
Fungsi kapasitor dalam dalan suatu rangkaian adalah sebagai berikut :
·         Sebagai filter atau penyaring
·         Sebagai kopling.penghubung antara rangkaian
·         Sebagai fine tuning
·         Penyimpangan arus
·         Identifikasi dan Membaca Nilai-Nilai Kapasitor
·         Jenis Kapasitor Berdasarkan Polaritasnya

Kapasiator Non Polar
Kapasitor non polar adalah kapasitor yang elektrodanya tanpa memiliki kutup positif (+) maupun kutub negative (-) artinya jika terbalik maka kapasitor tetap bekerja. Kapasitor non polar disimbolkan sebagai berikut :
http://4.bp.blogspot.com/_B1Nxi5MaZSI/TMUDRa7qq2I/AAAAAAAAACQ/_yk0GS8t2ko/s1600/hal005a.jpg
Gambar 2.4 Simbol Kapasitor Nonpolaritas
Tegangan kerja pada kapasitor AC untuk non polar : 25 Volt ; 50 Volt ; 100 ;16 Volt ; 25 Volt ;
Fungsi kapasitor dalam dalan suatu rangkaian adalah sebagai berikut :
Kapasitor non polar adalah kapasitor yang elektrodanya tanpa  artinya jika
Kapasitor non polar
Berikut ini adalah jenis-jenis kapasitor nonpolar adalah sebagai berikut : 
1.  Kapasitor Variable (Varco)
Kapasitor variabel adalah kapasitor yang nilai kapasitas-nya dapat diubah-ubah sesuai keinginan. Oleh karena itu kapasitor ini di kelompokan ke dalam kapasitor yang memiliki nilai kapasitas yang tidak tetap.
                                                Gambar 2.5 Kapasitor Variable


2.  Kapasitor Mika
Kapasitor ini mempunyai elektroida logam dan lapisan dielektrikum dari polysteryne mylar dan teflon setebal 0,0064 mm. Digunakan untuk koreksi faktor daya. Bentuk asli dari kapasitor mika adalah sebagai berikut :
                                                Gambar 2.6 Kapasitor Mika
 3.  Kapasitor Keramik
 Kapasitor ini menpunyai dielektrikum keramik. Kapasitor ini mempunyai oksida logam dan dielektrikumnya terdiri atas campuran titanium-48 oksida dan oksida lain. Kekuatan dielektrikumnya tinggi dan mempunyai kapasitas besar sekali dalam ukuran kecil. 
                                                Gambar 2.7 Kapasitor Keramik
•  Kapasitor Polar
Kapasitor polar elektrodanya mempunyai dua kutub, yakni kutub positif (+)
dan kutub negative (-), apabila kapasitor ini dipasang pada rangkaian
elektronika, maka pemasangannya tidak boleh terbalik. Salah satunya
contohnya adalah kapasitor elektrolit atau elko dan tantalum. Nilai kapasitas
maksimum dan kutub-kutubnya sudah tertera pada bodi komponen tersebut.
Contoh gambar kapasitor polar adalah sebagai berikut :
                                                Gambar 2.8 Kapasitor Polar 

b.  Membaca Nilai-Nilai Kapasitor
Pada kapasitor yang berukuran besar, nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka yang jelas. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. Misalnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 100µF25v yang artinya kapasitor/ kondensator tersebut memiliki nilai kapasitansi 100  µF dengan tegangan kerja maksimal yang diperbolehkan sebesar 25 volt.Kapasitor yang ukuran fisiknya kecil biasanya hanya bertuliskan 2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja. Jika hanya ada dua angka, satuannya adalah pF (pico farads). Sebagai contoh, kapasitor yang bertuliskan dua angka 47, maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 47 pF. Jika ada 3 digit, angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal, sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali. Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya, berturut-turut 1 = 10, 2 = 100, 3 = 1.000, 4 = 10.000, 5 = 100.000 dan seterusnya.  Contoh : 
104 105 222
104 = 10 x 10.000  = 100.000 pF 
= 100 nF  105 = 10 x 100.000 
= 1.000.000 pF  = 1.000 nF 
= 1 µF  222 = 22 x 100  = 2.200 pF  = 2,2 nF atau  = 2n2 
Untuk kapasitor polyester nilai kapasitansinya bisa diketahui berdasarkan warna seperti pada resistor. Table 2.2 Kode Warna Kapasitor :
Warna Nilai
Hitam 0
Coklat 1
Merah 2
Orange 3
Kuning 4
Hijau 5
Biru 6
Ungu 7
Abu-Abu 8 50 
Putih 9
 Contoh Jika kapasitor polyster Sebagai berikut:
Coklat Hitam Orange Nilainya
1 0 3 103 
103 = 10 x 1000
       = 1000 pF
       = 10 nF = 0,01 µF 
 3. Rangkaian Kapasitor
Rangkaian kapasitor bila dirangkai secara seri kapasitasnya akan berbanding terbalik dengan nilai masing-masing, semakin banyak rangkaiannya semakin kecil nilai kapasitasnya, tetapi tegangan kerjanya bertambah besar. Di bawah ini contoh kapasitor yang dirangkai secara seri.  Pada rangkaian kapasitor seri, berlaku rumus:
V = V1 + V2 + … + Vn
Q = Q1 = Q2 = Qn

Rangkaian kapasitor secara paralel akan mengakibatkan nilai kapasitansi pengganti semakin besar. Di bawah ini contoh kapasitor yang dirangkai secara paralel. 
Pada rangkaian kapasitor paralel, berlaku rumus:
V1 = V2 =V3 = Vn
Q = Q1 + Q2 + Q3 + Qn
CTOTAL = C1 + C2 + C3






   










BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan jenis eksperimental yaitu apabila penelitian tindakan kelas diselenggarakan dengan berupaya menerpkan berbagai  teknik dan model secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatan belajar mengajar. Di dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar dimungkinkan terdapat lebih dari satu model untuk mencapai tujuan instruksional, dengan diterapkannya penelitian tindakan kelas ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang lebih efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas langkah utama yang harus dilaksanakan yaitu merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan refleksi yang merupakan satu siklus dalam penelitian tindakan kelas, siklus selalu berulang. Setelah siklus satu selasai jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi. Permasalahan pada mata diklat Elaktronika Dasar adalah pada saat proses pembelajaran, terlihat bahwa siswa cenderung kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran karena guru masih menggunakan metode ceramah. Kesulitan siswa dalam pembelajaran diantaranya kesulitan memahami materi yang telah disamapaikan oleh guru dan siswa tidak memiliki keberanian untuk bertanya kepada guru menganai permasalahan yang dimilikinya. Karena hal tersebut penulis mengemukan mengapa penulis menggunakan metode penelitian tindakan kelas yaitu sebagai berikut :
1.  Bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran ditinjau dari aspek kognitif pada mata diklat Elaktronika Dasar
2.  Bertujuan untuk meningkatkan aktivitas siswa sehingga siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.
3.  Adanya partisipasi dari peneliti ataupun guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. 

B. Prosedur Penelitian 
Prosedur pelaksanaan penilitian tindakan kelas memiliki empat tahap. Keempat tahap tersebut adalah: perencanaan  (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi  (observation) dan refleksi  (reflektion). Kegiatan-kegiatan ini disebut dengan satu siklus kegiatan pemecahan masalah. Apabila satu siklus belum menunjukkan tanda-tanda pemecahan masalah kearah perbaikan (peningkatan mutu), kegiatan riset dialajutkan pada siklu kedua, dan seterusnya, samapai peneliti merasa puas. Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas jika terjadi kenaikan hasil belajar siswa yang signifikan pada setiap siklusnya.  Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan siswa pada mata diklat Elektronika Dasar dengan penerapan model pembelajaran kontekstual untuk mengetahui tingkat kemajuan belajar yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas sehingga peneliti selalu bekerjasama dengan guru mata pelajaran Elektronika Dasar, dimulai dari dialog awal, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan atau pemantauan (observasi), perenungan (refleksi) pada setiap tindakan yang dilakukan serta evaluasi. Berikut penjelasan dari masing-masing langkah kegiatan pada penelitian tindakan kelas :
1.  Dialog Awal
Dialog awal dilakukan untuk mengetahui sejauh mana  akar permasalahan yang terdiri pada saat pembelajaran berlangsung meliputi hasil belajar siswa dalam mengajukan pertanyaan secara lisan di dalam kelas dan nilai rata-rata ulangan harian kelas.
2.  Perencanaan (Planning)
Tahapan ini berupa menyusun rancangan tindakan yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Pada penelitian tindakan kelas  dimana peneliti dan guru adalah orang yang berbeda, dalam tahap menyusun rancangan harus ada kesepakatan antara keduanya.  Rancangan harus dilakukan bersama antara guru yang akan melakukan tindakan dengan peneliti yang akan mengamati proses jalannya tindakan. Hal tersebut untuk mengurangi subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan yang dilakukan pada tahap perencanaan peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Tindakan untuk pemecahan masalah yaitu menyusun rencana tindakan termasuk revisi dan perubahan rencana yang hendak dilakukan dalam pembelajaran  Elektronika Dasar termasuk sistem penilaiannya yang mengacu pada silabus. Dalam kaitan rencana disusun secara kolaboratif antara peneliti  dengan guru penguasaan Elektronika Dasar.
Hal yang perlu dilaksanakan pada tahap ini adalah :
1.  Menentukan kelas subjek yang akan diteliti, yaitu kelas X Elektronika di SMK Negeri 1 Bekasi.
2.  Menetapkan jumlah siklus, yaitu 3 siklus. 
3.  Menyiapkan metode mengajar berdasarkan model pembelajaran untuk tipe siklusnya, yaitu berupa ceramah, demonstrasi,  pemodelan, diskusi dan tanya jawab.
4.  Menyusun rencana pembelajaran yang akan diterapkan setiap siklus.
5.  Menyiapkan sumber belajar.
6.  Menentukan observer, dan alat bantu observer.
7.  Menetapkan cara pelaksanaan refleksi dan peneliti refleksi.
8.  Menetapkan kriteria keberhasilan dalam upaya pemecahan masalah.
3.  Tindakan (Action)
Pada tahap ini, rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Rancangan tindakan tersebut tentu  saja telah “dilatihkan” kepada si pelaksana tindakan (guru) untuk dapat diterapkan di dalam kelas sesuai dengan skenarionya. Skenario dari tindakan harus dilaksanankan dengan baik dan tampak wajar. Skenario atau rancangan tindakan yang akan dilakukan hendaknya dijabarkan serinci mungkin secara tertulis. Rincian tindakan itu menjelaskan (1) langkah demi langkah kegiatan yang dilakukan, (2) kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh guru, (3) kegiatan yang diharapkan dilakukan oleh siswa, (4) rincian tentang media pembelajaran yang akan digunakan dan cara menggunakannya, (5) jenis instrumen yang akan  digunakan untuk pengumpulan data/pengamatan disertai dengan penjelasan rinci bagaimana menggunakannya.  Peneliti menggunakan model pembelajaran kontekstual ditujukan untuk memperbaiki keadaan atau proses dan hasil pembelajaran serta sistem penilaiannya. Pelaksanaan tindakan yang direncanakan terbagi dari beberapa siklus penelitian. Setiap siklus pelaksanan  pembelajaran disesuaikan dengan waktu pada program semester dan jadwal pelajaran dikelas. Beberapa kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain:
1.  Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih  bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.  Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 
3.  Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
4.  Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
5.  Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
1.   Siklus pertama
Keberhasilan suatu tindakan akan ditentukan dengan perencanaan yang matang, oleh karena itu pada tahap ini dilakukan beberapa perencanaan yaitu :
1)  Menetapkan jumlah siklus, yaitu tiga siklus. Materi pada setiap siklus adalah sub pokok bahasan dari mata pelajaran Elektronika Dasar yaitu mengenai dasar-dasar elektronika. Dimana setiap siklusnya dilakukan satu kali tatap muka pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar